Jumat, 05 Agustus 2011

KERAJAAN BANTEN


Selama kurang lebih 1400 tahun setelah kerajaan Salakanagara di Banten tidak ada kerajaan besar berdiri baru sekitar tahun 1552 berdiri Kesultanan Banten dengan rajanya Maulana Hasanudin anak dari sinuhun sunan Gunung Jati
Cirebon.

Prabu Siliwangi yang merupakan Maharaja tatar sunda mempunyai beberapa anak dari kentring Manik Mayang sunda yang merupakan anak dari Prabu Susuk Tunggal yaitu Prabu Sangyang Surawisesa yang merupakan raja di Pakuan, Sang
Surosowan yang dijadikan adipati di pesisir Banten. Dari Sang surosowan mempunyai 2 orang anak yaitu . Sang Arya Surajaya dan nyai Kawung Anten.
Dalam babad Cirebon disebutkan ketika Syarif Hidayattulah baru datang dari Mesir dan singgah di cirebon menemui Uwa-nya bernama Pangeran Cakrabuana, mereka pergi ke Banten untuk menyebarkan agama Islam. Di Banten Syarif
Hidayattulah kemudian menikah dengan Nyai Kawung Anten yang merupakan anak dari Sang surosowan jadi mereka itu adalah sama-sama cucu dari Prabu siliwangi hanya lain ibu. Dari hasil perkawinan mereka mempunyai anak Maulana Hasanudin lahir tahun 1478 Masehi, yang merupakan penyebar agama Islam di Banten dan penguasa (Sultan Banten I).

Di samping Maulana Hasanudin di Banten ada seorang ulama yang lebih dahulu menyebarkan agama Islam yaitu Syech Muhammad Soleh di Gunung Santri, Cilegon, beliau pula yang ikut mendampingi Sultan Maulana Hasanudin meyebarkan Islam di Banten. Maulana Hasanudin mempunyai nama lain yaitu Pangeran Sabakingkin yang diberikan oleh kakeknya Sang surosowan ada juga yang memanggil dengan Seda Kinkin yaitu Seda (rakyat berduka) Kinkin (rindu akan kebijaksanaan) ketika beliau meninggal rakyat merasa bersedih. Ketika Sang surosowan (nantinya nama beliau menjadi nama keraton) meninggal dalam usia muda beliau digantikan oleh anaknya Arya surajaya ketika itu ibukota Banten letaknya di pedalaman dengan sungai atau lebih dikenal dengan Banten Girang. Pangeran Sabakingkin walaupun seorang keluarga kerajaan tetapi
beliau lebih dikenal seorang guru agama Islam yang hidup dengan rakyat biasa, maka dari itu wibawa beliau mengalahkan Ua-nya yang menjadi penguasa di Banten. suatu ketika beliau menerima kurir dari Bapaknya sunan Gunung Jati yang menyebutkan adanya Pasukan Cirebon+Demak yang dipimpin Fadilah Khan (Fatahillah) sedang berlayar ke Banten dalam rangka mengusir Portugis di sunda Kelapa.

Sebelum pasukan Cirebon datang Maulana Hasanudin membuat erusuhan di Banten yang mengakibatkan mengungsinya penguasa Banten Girang Aria surajaya) ke Pakuan, Banten berhasil ditaklukan sebelum Cirebon atang. Mengenai penguasa Banten, disamping Aria surajaya ada juga yang enyebut Prabu Pucuk Umun, Salaka Domas. Apakah mereka itu orang yang sama tau berbeda kurang diketahui keberadaannya. Dalam babad Banten disebutkan etika Maulana Hasanudin menyebarkan agama islam beliau mendapat tantangan du ayam jago dari Prabu Pucuk Umun di lereng gunung karang, jika ayamnya alah maka Prabu Pucuk Umun akan memberikan kerjaan Banten ke Maulana asanudin dan Prabu Pucuk Umun ternyata kalah, beliau beserta pengikutnya engungsi ke Banten Selatan dan Maulana Hasanudin memberikan izin agar
daerahnya tidak diganggu mereka lebih dikenal dengan suku Badui. Adapun asal uasal kata Banten ialah dari masuknya agama Islam bagi masyarakat Banten erupakan dampak yang sangat baik dan harus disyukuri. Hal ini ibarat asyarakat Banten pada waktu itu seperti "kejatuhan intan" atau "Katiban nten" dari sini muncul istilah "Banten", ada juga yang mengambil kata dari Bantahan" karena dari dahulu orang Banten dikenal orang yang keras suka em"bantah" melanggar aturan agama dan negara mungkin dari Bantahan itu uncul kata Banten, terkahir ada juga yang mengkaitkan dengan nama sebuah ungai yang mengalir di kota Serang bernama "Cibanten"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar